FORUM TAPAK SUCI
September 11, 2010, 03:16:30 *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Forum TAPAK SUCI
 
   Home   Help Mobile Search Login Register  
Pages: [1]   Go Down
  Print  
Author Topic: Dengan Iman dan Ahlaq Saya menjadi Kuat, tanpa Iman dan Ahlaq Saya Menjadi Lemah  (Read 2976 times)
qbstudio
Ranger-IV / Mentor
**

Popularitas: 8
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 673


Awards
« on: July 29, 2007, 01:50:14 »

Asswr.wb.
Dear all member, tentu kita sudah tau motto perguruan kita ini kan. This is the original of TAPAK SUCI.
Dan sekarang saya dengar2 ada satu wacana bagus di PPTS, yaitu bahwa motto ini akan dijadikan sebagai patokan (tolak ukur) untuk anggota TAPAK SUCI. Mungkin kita bisa cermati dari hal-hal kecil seperti misalnya bagaimana perlakuan seorang anggota terhadap Al Qur'an, atau apabila mendengar adzan, dsb.

Sungguh menarik untuk dibahas lebih lanjut. Misalnya antara lain yg berkenaan dengan beberapa hal:
1.  Dalil/Nash yang menjadi dasar dari motto ini.
2.  Bagaimana mengukurnya, apakah kalau setiap ujian saja, atau berlaku untuk seterusnya?
3.  Bagaimana agar implementasinya di daerah/wilayah dapat berjalan maksimal dan tepat sasaran?
4.  Bagaimana dengan TS yang berada di luar negeri yang secara notebene anggota mereka mayoritas adalah non-muslim?
5.  Filosofi apa yang terkandung di dalamnya yang harus ditegakkan sehingga mengapa hal ini menjadi hal yang vital bagi kita semua?

Silakan sumbang sarannya. Mungkin masih lebih banyak lagi hal-hal yang terkait. Untuk itu silakan ditambahkan/disempurnakan jika kurang. Terima kasih sebelumnya.

Wasswr.wb.
« Last Edit: July 29, 2007, 02:13:33 by qbstudio » Logged

"Lahir silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan"....
yuda
Newbie
*

Popularitas: 1
Offline Offline

Posts: 55


Awards
« Reply #1 on: December 19, 2007, 13:09:32 »

assalamualaikum kang/mbakyu

saya gak secara langsung menanggapi topik ini, tapi sekedar mengirimkan tulisan /artikel di kedaulatan rakyat setahun lalu yang nampaknya relevan dibaca lagi saat ini. hehehe, daripada buka topik baru, nimbrung di sini boleh ya kang iqbal hehehehe

Thursday, 04 January 2007 , Opini Publik
Kenapa Ada ”Dua” Idul Adha
oleh HM Asrori Ma’ruf (ketua PDM Bantul)
   
PADA Idul Adha 1427 H sekarang ini kita menghadapi kenyataan, adanya perbedaan waktu, misalnya: Perbedaan antara Waktu Arab Saudi (WAS) dengan Waktu Indonesia Barat (WIB). Kenyataan itu tidak bisa dibantah. Karena Allah SWT mensyariatkan pelaksanaan ibadah dikaitkan dengan waktu, maka tentu saja yang dimaksud adalah waktu di mana orang itu bermukim. Dengan alasan itu, waktu salat Maghrib di Indonesia, saat terbenam matahari sempurna, saat itulah wajib mengerjakan salat Maghrib. Artinya, tidak perlu salat Maghrib, menunggu terbenamnya matahari di Saudi Arabia .
Demikian itu berarti waktu salat Maghrib di Saudi Arabia tidak sama dengan di Indonesia (meskipun dasarnya tetap, yaitu setelah matahari terbenam sempurna).
Contoh lain: Jangan kita melakukan salat Subuh, dengan mengikuti waktu salat Subuhnya negeri Mekah, sebab kalau kita mengikuti waktu Subuh di Mekah, pasti di Indonesia baru jam 12 malam. Apakah mungkin kita salat Subuh di Indonesia ini pada jam 12 malam (hanya karena beralasan mengikuti waktu di Mekah).

Tegasnya, perbedaan waktu di antara belahan dunia itu suatu kenyataan, malah tidak akan mungkin di dunia ini seluruhnya satu waktu. Tidak ada sedikitpun alasan, baik kaidah syariah diiniyah maupun kaidah-ilmiyah-hukmiyah, yang bisa dijadikan landasan untuk menyatakan bahwa, perintah ibadah dalam Islam (untuk seluruh dunia) itu haruslah dikaitkan dengan waktu Mekah ( Saudi Arabia ) saja.


Perbedaan Waktu di Luar Mekah

Dengan demikian perbedaan waktu itu adalah realitas alam (kaidah kauniyah), pada dasarnya realitas alam memerlukan rujukan Quran (kaidah quraniyah), yang kauniyah ciptaan Allah SWT sedang yang quraniyah itu firman Allah SWT. Dalam quran dinyatakan, bahwa matahari bersinar, dan bulan bercahaya, kemudian menciptakan manzilah garis edar /orbitnya; maka manusia bisa mengetahui akan hitungan tahun dan ilmu hisab/astronomi (Surat Yunus, ayat 5). Bahkan dinyatakan pula, bahwa matahari dan bulan itu beredar menurut perhitungan yang pasti (Surat Ar-Rahman, ayat 5). Ditegaskan pula, bahwa matahari tidak bertabrakan dengan bulan, karena masing-masing telah sama memiliki garis edarnya sendiri, siang dan malampun tidak akan saling mendahului (Surat Yaasiin 40).

Secara alamiah, amat sulit untuk melaksanakan puasa Arofah, salat Idul Adha, maupun ibadah-ibadah lain yang terkait dengan waktu, untuk dilaksanakan secara serentak dan waktu yang sama untuk seluruh dunia. Semuanya dikarenakan bumi itu bulat, di mana terdapat negeri-negeri yang terletak pada bagian bumi di balik kota Mekah; yaitu negeri-negeri yang memang terletak di Garis Batas Tanggal Internasional (International Date Line). Misalnya pada kawasan “Barat” kota Mekah, negeri-negeri itu antara lain: Kepulauan Midway , Hawaii , Poenix, Samoa dan lain-lain yang beda waktu dengan Mekah, berkisar antara 13 hingga 14 jam. Demikian pula pada kawasan Timur kota Mekah, negeri itu misalnya Selandia Baru, yang beda waktu dengan Mekah mencapai sekitar 9 jam.

Dalam contoh riil ini, kiranya dapat digambarkan: 1). Apabila orang berada di Samoa masih sedang berpuasa pada Jumat, pukul 05.00 sore, maka pada saat itu di Mekah sudah pukul 07.00 Sabtu pagi, 2). Apabila orang berada di Jakarta pada pukul 04.00 pagi Jumat tanggal 29 Desember 2006, maka pada saat itu di Mekah pukul 00.00 hari Jumat tanggal 29 Desember 2006 (tengah malam).

Dengan demikian, nyatalah bahwa perbedaan waktu di berbagai pelosok bumi ini adalah suatu realitas alamiyah. Pembuktian realitas alamiyah itu memerlukan rujukan transendental yang mendasari kebenaran transendental pula, maka lalu dipulangkan kepada normativitas quraniyah. Terpadulah sudah sinergitas antara dalil Quran dengan realitas alam, dan antara normativitas Quran dengan historisitas peristiwa alam, antara kebenaran Quran dan kecocokannya dengan peristiwa alam.

Kasus Perbedaan

Fenomena yang terjadi pada Idul Adha 1427 H ini adalah munculnya perbedaan penetapan hari dan tanggal pelaksanaan salat Ied dan rangkaiannya. Perbedaan itu didasarkan oleh pendapat dan sikap tentang “Apakah dunia itu satu waktu atau tidak, dan apakah Mekah itu diyakini sebagai sentral waktu bagi dunia ini atau bukan?” Inilah sumber perbedaan pendapat dalam penentuan Idul Adha tahun ini, dan bisa juga pada masa-masa mendatang.

Mari kita tunjukkan bukti perbedaan penentuan Idul Adha!

1). Kelompok yang berpendapat, bahwa dunia itu satu waktu, dan bahwa Mekah itu menjadi sentral bagi penentuan waktu untuk seluruh dunia. Mereka melakukan puasa Arofah pada hari Jumat 29 Desember 2006, dan salat Idul Adha pada hari Sabtu 30 Desember 2006, berarti hari tasyrik adalah Ahad, Senin dan Selasa, tanggal 31 Desember 2006 dan tanggal 1 dan 2 Januari 2007. Bagi mereka Mekah itu menjadi simbol kesatuan dunia yang harus diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan dan syariat.

2). Kelompok yang mendua (sikap ganda), bahwa puasa Arofah mengikuti kalender dari Saudi Arabia sehingga mereka lakukan pada hari Jumat 29 Desember 2006. Namun mereka ini melakukan hari raya Idul Adha justru selang sehari, yaitu Ahad 31 Desember 2006; dengan alasan diundur (pengunduran ini jelas mengikuti kalender Indonesia ). Dengan jarak sehari antara hari Arofah dengan hari raya Idul Adha itu justru mengundang pertanyaan-syar’i yang sangat mendasar. Lantas bagi mereka ini, kapankah hari-hari tasyriknya? Apakah pengunduran itu akan mempengaruhi penentuan hari-hari tasyrik ataukah tidak? Apakah hari tasyrik dihitung secara berturut sejak hari Arofah, ataukah dihitung secara berturut sejak hari Idul Adha. Sebab ketetapan syar’i menggariskan bahwa hari Arofah, hari raya Idul Adha dan hari tasyrik itu adalah 5 ( lima ) hari yang berturut-turut. Pertanyaan ini mencuat karena terjadinya pengunduran hari raya sehari oleh kelompok ini. Apakah ketetapan pengunduran hari raya ini memang beralasan syar’i yang memang mendasar ataukah karena alasan lain, politik misalnya.

3). Kelompok yang berpendapat, bahwa dunia bukan satu waktu dan bahwa tempat lainnya di luar Mekah memiliki waktu sendiri yang berbeda dengan Mekah. Mereka kelompok mayoritas umat Islam di Indonesia atau kelompok mainstream Islam di Indonesia, baik mereka Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama dan pemerintah sendiri. Mayoritas umat Islam Indonesia ini melakukan puasa Arofah hari Sabtu 30 Desember 2006, lantas melakukan salat Idul Adha pada hari Ahad 31 Desember 2006. Berarti hari tasyrik pun telah ditentukan akan jatuh pada hari Senin, Selasa dan Rabu, bertepatan dengan tanggal 1, 2 dan 3 Januari 2007.

Mereka yang mayoritas ini mempergunakan kalender Indonesia dan tidak menggunakan kalender Saudi Arabia; karena itulah mereka ini dikenal dengan Islam yang berbasis kultur ke-Indonesia-an. Maknanya mereka ini tumbuh, berkembang dan membesar dalam kultur/budaya Indonesia. Malahan organisasi/persyarikatan mereka itu tumbuh dan berkembang untuk menyelesaikan persoalan-persoalan: kebangsaan, keumatan, ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Sehingga menjadilah bentuk ke-Islam- an yang membumi di tanah pesemaiannya sendiri dalam wajah yang santun dan sejuk. q - m

ok matur nuwun
dengan iman dan akhlaq saya menjadi kuat dan sebaliknya (hehehe, biar sesuai topiknya)
Logged
qbstudio
Ranger-IV / Mentor
**

Popularitas: 8
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 673


Awards
« Reply #2 on: January 04, 2008, 15:19:01 »

Mohon izin menanggapi..

Sebagai orang yg sdg belajar agama, saya lihat akan lebih cantik kalau bingkai agama memang kita letakkan "ditempatnya", bukan di Arab, bukan pula di Indonesia, terlebih bukan di pemerintah (penguasa). Artinya kita kembalikan ke Al Quran dan As Sunnah. Cantik bin aduhai memang apabila setiap zat yg bernama "manusia" memiliki akhlaq yg mulia. Karena manusia itu sesungguhnya lemah, maka tepat apabila manusia "menjadi kuat" dengan cara memperbagus ahlaq. Tapi bagaimana cara memperbagus ahlaq, tentu harus ada Iman sebagai pondasinya. Dan entah bagaimana akhirnya saya menemukan ternyata dari sekian banyak tanda2 iman, semua tanda2 itu lebih tercermin dari ahlaq. Nabi SAW pernah bilang (baca: bersabda): "Iman itu terdiri dari 60 atau 70 cabang. Yang paling utama adalah mengucapkan kalimat Laa ilaa ha illallah. Yang paling ringan adalah memindahkan duri dari tengah jalan. Sedang malu, adalah sebagian dari iman."
Jadi ada sekian banyak cabang iman (tanda2 iman), a.l:
1.  Mengucap laa ilaaha illallah - ahlaq kepada Allah.
2.  Memindahkan duri dari jalanan - ahlaq kepada sesama mahluk.
3.  Malu - ahlaq kepada Allah dan kepada sesama mahluk.

Jadi... jadi apa ya... ? Mohon maaf saya bukan mau menggurui.  :p CMIIW
Logged

"Lahir silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan"....
Denny Artagraha
Newbie
*

Popularitas: 0
Offline Offline

Posts: 66


Awards
« Reply #3 on: February 19, 2008, 16:49:07 »

Salaam...

Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat
Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah

mengapa harus Iman dan Akhlaq, dua kalimat yang mewakili langit dan bumi itu tampaknya harus benar benar menjadi sebuah pedoman dimana pada dasarnya manusia diciptakan dengan banyak kekuatan, namun tanpa didampingi dengan Iman (keyakinan terhadap Allah, Malaikat, Rasul, Qur'an, Hari Akhir, Qodho dan Qodar) dan Akhlaq (perilaku terhadap sesama) yang baik maka kekuatan itu menjadi bomerang bagi kita sendiri..hingga sebaliknya manusiapun diciptakan dengan banyak kelemahan, namun jika dibarengi dengan Iman dan Akhlaq, maka kelemahan itu menjadi satu kekuatan untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar.

Terima kasih,
sekedar buat meramaikan forum ini...
Logged
yusron
Jr. Member
***

Popularitas: 0
Offline Offline

Posts: 240

~ makin lama makin cinta ~


WWW Awards
« Reply #4 on: February 23, 2008, 12:37:28 »

Salaam...

Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat
Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah

mengapa harus Iman dan Akhlaq, dua kalimat yang mewakili langit dan bumi itu tampaknya harus benar benar menjadi sebuah pedoman dimana pada dasarnya manusia diciptakan dengan banyak kekuatan, namun tanpa didampingi dengan Iman (keyakinan terhadap Allah, Malaikat, Rasul, Qur'an, Hari Akhir, Qodho dan Qodar) dan Akhlaq (perilaku terhadap sesama) yang baik maka kekuatan itu menjadi bomerang bagi kita sendiri..hingga sebaliknya manusiapun diciptakan dengan banyak kelemahan, namun jika dibarengi dengan Iman dan Akhlaq, maka kelemahan itu menjadi satu kekuatan untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar.

Terima kasih,
sekedar buat meramaikan forum ini...

setuju kang..
Logged

PeDaNg!
Guest
« Reply #5 on: February 24, 2008, 19:18:19 »



http://pptapaksuci.org/index.php?option=com_content&task=view&id=66&Itemid=
Logged
qbstudio
Ranger-IV / Mentor
**

Popularitas: 8
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 673


Awards
« Reply #6 on: December 10, 2008, 19:29:25 »

Menghidupkan kembali thread yg sesungguhnya bagus nee... Cheesy

Jika kita memandang bahwa latihan itu bagian dari ibadah, maka mudah2an akan mempertinggi akhlaq kita sekalian. Tapi maksudnya "ibadah" disini bukan akhirnya mensejajarkan latihan TAPAK SUCI dengan ibadah2 mahdhoh lainnya (seperti shalat, puasa), bukan pula mau membuat2 bid'ah baru lho... Namun semata karena memandang latihan itu sebagai bentuk amal shaleh, maka alangkah cantiknya kalau pelaksanaannya tertib seperti menjalankan ibadah2 lainnya sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Seragam merah-merah itu bisa kita anggap seperti pakaian ihram, artinya pakaian yg digunakan ketika menjalankan suatu ritual ibadah. Jadi ketika kita mengenakan seragam, ya anggaplah itu sedang ibadah. Jadi seragam pun dipilih yang bersih, kalau bisa suci, wangi, dan cara memakainya pun tertib.
Begitu masuk lapangan pun ada rukunnya, salam hormat dulu, kemudian berdoa. Dibuka dengan bismillah, ditutup dengan hamdallah. Jadi 3 jam latihan, mudah2an diterima sebagai amal ibadah di sisi Allah, Amin.
Logged

"Lahir silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan"....
Islah
Guest
« Reply #7 on: February 28, 2009, 03:28:02 »

ditambah lagi diniatkan sebagai bentuk penguasaan diri dari pengaruh buruk sering tatap muka antara anggota tapak suci yang berbeda jenis.
sering ngeliat-kan.... diantara kita kalo lagi bercanda antara lawan jenis didalam latihan seringnya oper gitu... sampe melupakan batasan aturan pergaulan (tarik-tarik tangan kek... ini kek, itu kek, de el el)

ketika kita beriman ( dalam hal ini meyakini bahwa niatan latihan tapak suci adalah sebagai bentuk ibadah) maka aplikasinya adlh akhlaq (menghindari sebisa mungkin hal-hal yang dapat merusak iman itu sendiri)

betulin deh kalo ada salah-salah kata....  Cheesy

mari pertahankan citra tapak suci sebagai seni beladiri yang berbasis islam agar tetap meyakini aturan dalam islam itu sendiri.
Logged
qbstudio
Ranger-IV / Mentor
**

Popularitas: 8
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 673


Awards
« Reply #8 on: March 23, 2009, 00:52:11 »

Setuju dg Mas Islah...
Btw kemana aja, baru turun gunung skrg..? Cheesy
Logged

"Lahir silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan"....
Ansyordin
Lurah di board ini
Newbie
*

Popularitas: 0
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 82

eben


Awards
« Reply #9 on: March 12, 2010, 11:10:06 »

dengan iman dan akhlaq saya menjadi kuat
tanpa iman dan akhlaq saya menjadi lemah

tugas utama kita adalah terus memperbaiki diri untuk mempertinggi ketaqwaan kepada Allah SWT,
Kemuliaan dari Allah SWT kita harapkan diberikannya kepada kita semua ....amin...
Logged

Merpati Mengibas Sayap
Pages: [1]   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP (c) Pimpinan Pusat
Perguruan Seni Beladiri Indonesia
TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH

Powered by SMF | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC
Valid XHTML 1.0! Valid CSS!