FORUM TAPAK SUCI
September 11, 2010, 03:22:01 *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Forum TAPAK SUCI
 
   Home   Help Mobile Search Login Register  
Pages: 1 [2] 3   Go Down
  Print  
Author Topic: Bahasa Minang  (Read 4327 times)
qbstudio
Ranger-IV / Mentor
**

Popularitas: 8
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 673


Awards
« Reply #15 on: December 08, 2008, 20:12:40 »

Terima kasih uni sudah memberikan penjelasan yg sangat tepat. Ooo... skrg saya tambah mengerti nih ttg bahasa Minang ini.
Kalau begitu, mau nambahin aja..

"tahu jo nan ampek" merupakan salah satu tuntunan berbahasa yang dipakai di dalam masyarakat minang, yang menunjukkan kematangan berbahasa seseorang. Seni Lisan kiranya memang sudah berurat akar pada masyarakat minang, yang perkembangannya seiring dengan perkembangan peradaban minang itu sendiri. Karena dari tutur kata, orang dapat menilai diri kita, maka kematangan berbahasa juga menjadi salah satu keterampilan yang diasah oleh masyarakat minangkabau, khususnya para tokoh masyarakat seperti tetua, ninik mamak, datuk, kepala nagari, dan tidak terkecuali para Pandeka (pendekar). Khususnya bagi kalangan Pandeka, seni lisan itu sudah menjadi salah satu aspek seni silek (pencak silat) yang primer. Saya pikir ini adalah sifat universal dari kependekaran. Artinya, tidak saja di Minangkabau namun juga di daerah lainnya, seorang pendekar silat dituntut menguasai seni lisan, sebagai bekal dalam berkomunikasi dengan orang lain atau dengan musuh. Ibarat kata, bersilang senjata jangan didahulukan, karena lebih elok mengutamakan silang sembah. Kalau pun ingin bersilang, bolehlah jika sekedar bersilang kata. Ini kata datuk saya.. Cheesy
Logged

"Lahir silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan"....
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #16 on: December 15, 2008, 14:32:00 »

makanya kalo orang minang ngomong gak pernah to the point yah, ada aja peribahasa yang dipake
pertama kali aku ngobrol sama orang minang, jadinya melongo... aja. habis aku gak pernah ngomong seperti itu Cheesy Cheesy Cheesy
Logged
handy
Known Member
**

Popularitas: 2
Offline Offline

Posts: 182

"sedikit bicara banyak begadang"


Awards
« Reply #17 on: December 17, 2008, 11:49:21 »

oooooo.......... makanya di Ranah Minang tuh banyak pencak silat....
karena orang2 nya pade pinter 'silat lidah'...
Logged
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #18 on: December 19, 2008, 12:56:23 »

ih... si mas bisa aja deh!

memang dilihat dari budaya yang beredar, setiap mau bertarung (turun gelanggang) setiap pesilat pada adu mulut dulu.
mungkin itu kali ya hubungannya dengan peribahasa 'silat lidah'  Tongue Tongue

Logged
qbstudio
Ranger-IV / Mentor
**

Popularitas: 8
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 673


Awards
« Reply #19 on: December 20, 2008, 21:52:59 »

Pertumpahan darah, adalah kata terakhir dari perjuangan... ini ucapan almarhum kakek saya yang dari Minang. Jadi sebelum sampai kesitu, kiranya Silat Lidah "dibuka" sebagai sarana yang kelak disebut orang dgn: diplomasi, negosiasi, tawar menawar, dsb. Menurut saya inilah makna bersilat lidah, beradu skill berbahasa. Istilah silat lidah itu sendiri sebetulnya bukan berarti ngeles atau bikin alasan untuk menghindar, apalagi debat tidak berguna. Namanya juga "silat", jadi bukan cuma hindar-menghindar saja, tetapi harus ada "serangan", beradu keterampilan berbahasa, dalam mencapai pemahaman dan penilaian yang benar, dalam mencapai mufakat. Jauh sebelum istilah "retorika" diperkenalkan oleh dunia asing dalam praktek berbahasa kita, ternyata nenek moyang telah mempraktekannya lebih dahulu. CMIIW
Logged

"Lahir silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan"....
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #20 on: December 21, 2008, 18:29:38 »

kok jadi cerita budaya ya???

lanjutin topiknya ahh...

seperti bahasa inggris, bahasa minang ada yang irregular-nya, lho. Yang sampai sekarang aku belum ketemu rumusnya

seperti:
       leher = lihia

Logged
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #21 on: September 14, 2009, 16:27:46 »

kok gak ada orang ya?
Logged
qbstudio
Ranger-IV / Mentor
**

Popularitas: 8
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 673


Awards
« Reply #22 on: September 16, 2009, 00:52:46 »

Laiii uni..
Logged

"Lahir silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan"....
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #23 on: September 30, 2009, 10:00:52 »

Lanjutin dong...
Perlu dibahas apa lagi nih?
Logged
handy
Known Member
**

Popularitas: 2
Offline Offline

Posts: 182

"sedikit bicara banyak begadang"


Awards
« Reply #24 on: December 20, 2009, 03:24:54 »

(((((HADIRR)))...
Logged
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #25 on: December 28, 2009, 12:12:14 »

mas handy: cuma bisa bilang hadir?

Enaknya mai bahas apalagi nih tentang bahasa dan budaya di minang?
Logged
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #26 on: January 24, 2010, 11:15:54 »

ngomong-ngomong soal budaya minang...

budaya minang sering disebut dengan matriakat, beda dengan daerah lain yang umunya menganut patriakat.
ada banyak hal yang mendasari hal ini.

ada yang tahu gak apa-apa aja?
Logged
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #27 on: February 03, 2010, 17:24:35 »

Pada sebuah website aku ketemu artikel kayak gini nih isinya

Kaluak paku kacang balimbing,
daun simantuang lenggang-lenggangkan
anak dipangku kemenakan dibimbing
urang kampuang dipatenggangkan

Ranah Minang adalah sebuah negeri dengan keunikan pola keluarga yaitu mengikuti garis keturunan ibu. Sistem garis keturunan dari ibu atau lebih dikenal : matriakat atau matrilinel hanya dianut oleh lima suku bangsa di dunia, yaitu : suku Minangkabau, suku yang mendiami Danau Nyana di Afrika, suku Iroquois Indian Amerika, suku Negeri Sembilan Malaysia dan suku Babemba di Rhodesia India.

Akibat pola garis keturunan ibu tersebut, menimbulkan pertanyaan seperti apakah sebetulnya peran ayah di ranah Minang. Papatah diatas adalah penggambaran tanggung jawab seorang ayah. Selain pada anaknya, seorang laki-laki juga tidak bisa lepas pada tanggung jawab pada keponakan-keponakannya dari saudara perempuan.

Ketika pola ini dipadankan pada posisi dirinya didalam keluarga istrinya, maka berimplikasi pada berkurangnya atau tidak penuhnya lagi kewenangannya pada anaknya, karena anak-anaknya adalah keponakan dari ipar laki-lakinya dari pihak istri.
Walaupun secara biologis seorang laki-laki di ranah Minang tetap memiliki tanggung jawab penuh pada anak-anaknya, namun dia tidak memiliki hak penuh untuk membuat berbagai keputusan tentang anaknya.

Nah... para ayah... silakan didiskusikan ^_^
Logged
handy
Known Member
**

Popularitas: 2
Offline Offline

Posts: 182

"sedikit bicara banyak begadang"


Awards
« Reply #28 on: February 17, 2010, 17:00:57 »

hmmmmm ..... begetto tow..!!
hampir sama dengan yang di Padang juga yaa ... ? lebih kuat dari garis Ibu ... karena laki-laki ga dapet jatah warisan ... ! (katanya)
Logged
mumtazah
Jr. Member
***

Popularitas: 4
Offline Offline

Gender: Female
Posts: 286



Awards
« Reply #29 on: February 18, 2010, 17:49:19 »

hmmmmm ..... begetto tow..!!
hampir sama dengan yang di Padang juga yaa ... ? lebih kuat dari garis Ibu ... karena laki-laki ga dapet jatah warisan ... ! (katanya)

Padang ya minang juga dong mas handy.....
Padang itu nama ibukota sumatera barat
sedangkan minang itu kesukuannya. seperti di daerah lain: batak di sumatera utara, dll
Logged
Pages: 1 [2] 3   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP (c) Pimpinan Pusat
Perguruan Seni Beladiri Indonesia
TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH

Powered by SMF | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC
Valid XHTML 1.0! Valid CSS!